Surakarta, 16 Oktober 2024 — Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini semakin terasa dampaknya dalam dunia akuntansi dan riset. Hal ini disampaikan oleh Emmeli Runesson, Ph.D., dalam sebuah kuliah umum bertajuk “AI and Machine Learning in Accounting Research” yang diselenggarakan oleh Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Acara yang dihadiri oleh para dosen akuntansi UMS ini menjadi ajang penting untuk memperluas pemahaman akademisi mengenai pemanfaatan AI dalam praktik maupun penelitian akuntansi.
Dalam paparannya, Runesson menjelaskan bahwa AI bukan lagi sekadar konsep futuristik, melainkan telah menjadi bagian nyata dalam praktik profesional dan penelitian. “Artificial intelligence sering dianggap sebagai sesuatu yang berada di garis depan kecerdasan komputer. Namun pada intinya, AI adalah kecerdasan mesin yang mampu belajar, beradaptasi, dan membantu manusia dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.
Ia menyoroti perbedaan antara AI klasik dan AI modern. AI klasik bekerja dengan logika simbolik dan algoritma berbasis aturan (rule-based), seperti sistem pakar atau perhitungan matematis. Namun, model ini memiliki keterbatasan dalam menghadapi data tidak terstruktur dan ketidakpastian. Sebaliknya, AI modern — melalui machine learning (ML), deep learning, dan natural language processing (NLP) — mampu menganalisis data besar, mengenali pola, hingga menghasilkan teks yang menyerupai bahasa manusia.
Lebih jauh, Runesson memaparkan penerapan AI dalam praktik akuntansi dan audit. Menurutnya, AI tidak serta-merta menghapus peran akuntan, tetapi justru membuat profesi ini menghadapi tantangan baru. “Pekerjaan rutin seperti pembukuan akan semakin otomatis, namun hal ini justru menuntut akuntan untuk meningkatkan kapasitas analisis, interpretasi, dan pengambilan keputusan,” jelasnya.
Dalam ranah penelitian, ia menekankan pentingnya penggunaan machine learning untuk analisis data akuntansi. Metode seperti supervised learning (regresi, klasifikasi), unsupervised learning (clustering, topic modeling), hingga generative AI kini digunakan untuk memahami teks laporan keberlanjutan, laporan tahunan, hingga media sosial perusahaan.
Runesson juga menyinggung penelitian terbarunya mengenai analisis sentimen dalam laporan keuangan pemerintah daerah di Swedia. Studi tersebut mengombinasikan metode berbasis kamus (dictionary-based analysis) dengan model generatif AI. Hasilnya menunjukkan bahwa nada (tone) dalam laporan tahunan dapat memengaruhi liputan media serta persepsi publik terhadap kinerja keuangan pemerintah.
Menutup sesinya, Runesson mendorong akademisi untuk tidak hanya melihat AI sebagai alat otomatisasi, tetapi juga sebagai sarana riset yang membuka peluang baru dalam memahami perilaku organisasi, pasar, dan masyarakat. “Kita perlu belajar berdialog dengan AI—bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk memperluas kapasitas intelektual kita,” pungkasnya.

